Brantas Energi Siap Sokong Pemerintah Capai Target EBT 23% pada 2025

01 Mei 2018


Kini belasan ribu warga di Kecamatan Padang Guci Hulu, Kabupaten Kaur, Bengkulu dapat lebih nyaman melakukan aktifitas. Pasalnya keluhan terhadap pemadaman listrik oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang kerap terjadi di wilayahnya sudah tak perlu dikhawatirkan lagi. Sejak Jum'at 14 April 2017, Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) Padang Guci di Desa Bungin Tambun III resmi beroperasi dengan daya 3 x 2,0 Megawatt (MW) yang dihasilkan dari 3 unit turbin yang digerakan oleh aliran sungai Padang Guci.

PLTM yang telah menyokong sistem jaringan listrik PLN Wilayah Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu (S2JB) tersebut tak lain adalah hasil kerja PT Brantas Energi. PT Brantas Energi adalah anak usaha PT Brantas Abipraya (Persero) yang menjadi salah satu bentuk diversifikasi usaha Abipraya yang menunjukkan bahwa Abipraya tak hanya berfokus pada konstruksi saja tapi  juga investasi yang masih berkaitan dengan bisnis utamanya saja yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Air.

“Tak hanya tenaga air, kami juga menjajaki Pembangkit Listrik Tenaga Surya dengan membangun PLTS Gorontalo sebesar 2,0 MWp dan tak menutup kemungkinan untuk merambah bisnis jenis Energi Baru dan Terbarukan (EBT) lainnya,” kata Sutjipto, Direktur Utama PT Brantas Energi.

Faktor pendorong yang menjadikan EBT sebagai core business PT Brantas Energi yaitu penguasaan teknologi. Hal ini juga didukung oleh Induk Perusahaan yang sangat berpengalaman dalam konstruksi pembangkit listrik. PT Brantas Abipraya sudah malang melintang bermitra dengan PLN dalam beberapa proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), di antaranya pembangunan PLTA Kotopanjang di Riau dan PLTA Sutami di Malang, Jawa Timur. Sutjipto menambahkan, “Selain itu, buyer-nya (pihak pembeli listrik dari Unit Pembangkit) jelas yaitu PLN. Nantinya hasil listrik yang dihasilkan dari Unit Pembangkit berbasis EBT akan dibeli oleh PLN melalui skema Independent Power Producer (IPP)".

Sutjipto mengatakan bahwa berdasarkan studi, potensi EBT khususnya hydro power di Indonesia masih sangat besar, sekitar 16.000 MW dengan potensi yang sudah terbangun sebanyak 5.000 MW sehingga potensi pengembangan EBT masih sangat tinggi.

Saat ini 2 proyek telah dirampungkan oleh PT Brantas Energi yaitu PLTM Padang Guci di Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu yang mulai beroperasi pada 14 April 2017 dan PLTS Gorontalo di Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo yang sudah beroperasi sejak 19 Februari 2016.

PLTM Padang Guci yang dioperasikan oleh PT Sahung Brantas Energi yang merupakan Special Purpose Company (SPC/Perusahaan untuk tujuan khusus) di bawah grup Brantas Energi. Penandatanganan Berita Acara Commercial Operation Date (COD) pun telah dilakukan dengan PLN Wilayah Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu (WS2JB) pada 20 April  2017. “PLTM Padang Guci ini diharapkan mampu menjadi solusi bagi masyarakat di Bengkulu yang sampai saat ini masih kekurangan pasokan listrik," kata Sutjipto.


PLTM Padang Guci (3 x 2,0 MW)

Sukses dengan proyek PLTM Padang Guci, PT Brantas Energi melangkah ke proyek PLTM Padang Guci-2 yang berlokasi sekitar 6 km di sebelah hulu PLTM Padang Guci. Dengan memanfaatkan aliran Sungai Padang Guci yang memiliki aliran sangat deras dan didukung oleh kondisi alamnya yang sangat berpotensi untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro.

Pada tanggal  2 Agustus 2017, PT Brantas Energi melalui SPC lainnya  yaitu PT Brantas Hidro Energi juga telah melakukan penandatanganan  kesepakatan dengan PLN untuk Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) Padang Guci-2 di Hotel Mulia, Jakarta dengan disaksikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan. Bersamaan dengan itu pula dilakukan penandatanganan PJBL di PLN Wilayah Sumatera Barat (Wil. Sumbar) di Padang untuk PLTM Sako dengan kapasitas 2 x 3,0 MW  yang akan dioperasikan oleh SPC lainnya yaitu PT Brantas Cakrawala Energi.

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Gorontalo dengan kapasitas 2,0 MWp juga menjadi salah satu proyek EBT milik PT Brantas Energi. Pembangkit ini berlokasi di Desa Motihelumo, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo dengan investasi sekitar Rp 50 miliar. “Untuk pembangunannya, kami bersinergi dengan pabrikan modul surya dalam negeri yaitu PT Adyawinsa," kata Sutjipto.



PLTS Gorontalo (2,0 MWp)

Penandatanganan Berita Acara terkait pengoperasian PLTS dengan PLN Wilayah Sulawesi Utara, Tengah dan Gorontalo (Wil. Suluttenggo) telah dilakukan pada Februari 2016.

Untuk pembangkit yang saat ini sedang dalam tahap konstruksi yaitu sekitar 20 MW untuk PLTM sebanyak 3 lokasi dengan rincian di 2 lokasi di  Provinsi Sulawesi Selatan dan 1 lokasi di Provinsi Sumatera  Barat. 

“Proyek yang sedang kami kembangkan untuk tahun 2019 sekitar 100 MW semuanya berbasis hydro power. Ada  7 lokasi yang tersebar di Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat,” tutur Sutjipto. 

“Untuk Rencana Jangka Panjang Perusahaan dalam 5 tahun ke depan, target Perusahaan yaitu membangun Unit Pembangkit sebesar 400 MW khususnya yang berbasis hydro power. Lokasinya terutama dikembangkan  di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Sulawesi Selatan. Karena   potensi hydro power banyak terdapat di daerah tersebut. Ini adalah bukti   komitmen PT Brantas Energi dalam meningkatkan pemanfaatan EBT untuk meningkatkan rasio elektrifikasi daerah terpencil yang relatif jauh dari jaringan listrik eksisting yang ada," kata Sutjipto.

Terkait dengan peraturan dan tarif, Sutjipto berharap ada perubahan kebijakan dari Pemerintah agar lebih mendukung Investor. “Dari Kementerian ESDM, kita harapkan juga penetapan tarif bukan berdasarkan ceiling tariff tetapi fixed price, karena dengan ceiling tariff di dalamnya ada proses negosiasi dengan PLN yang memperpanjang waktu dalam proses PJBL” ujar Sutjipto.

Ditambahkan Sutjipto, sisi positifnya dari kebijakan sekarang adalah tarif sudah diakomodir dalam US$ sehingga memungkinkan Investor mendapat pinjaman dana dalam US$ dengan interest rate yang lebih menarik. 

Sebagai bagian dari peran Pemerintah dalam mencapai target bauran sumber energi listrik nasional berbasis EBT sebesar 23% pada tahun 2025 sesuai yang diamanahkan dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN), PT Brantas Energi akan terus memberikan kontribusi dengan pembangunan infrastruktur  EBT. Sejalan dengan motto Perusahaan yaitu Eco Responsible, PT Brantas Energi tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur saja melainkan juga berperan aktif menjaga lingkungan melalui Unit Pembangkit berbasis EBT dalam rangka mengurangi emisi karbon dan pemanasan global.